Berdiri di ujung senja dalam kesendirian. Menanti yang tak terlihat. Menggenggam senyum yang penuh luka. Mencoba menegakkan kepala meski punggung tak dapat lagi menopang tubuh dengan gagahnya. Mencoba menumpahkan semua beban dalam kesendirian.
Semua terlihat begitu indah dalam pandangan. Sebab panggung sandiwara yang telah lama dimulai membuatku terhanyut ke dalam peran yang tak kumengerti. Mata sayup penuh luka itu, begitu penuh kasih sayang. Hingga aku tak pernah melihat luka dalam pandangannya. Senyumnya selalu hadirkan bahagia, yang membuatku hanyut dalam buain manjanya.
Tak pernah kumengerti apa dilihat mataku, hanyalah sebuah sandiwara di atas panggung yang akan segera usai. Entah akan berakhir bahagia ataukah sebaliknya. Tapi kepastian akan datangnya senja dalam usiamu sudah memperlihatkan langit jingga. Memantapkan akan kehadirannya yang akan hadirkan kegelapan dalam hidupku.
Tak kutahu apakah hari esok ataukah hari ini senja menemuimu. Peluklah aku sebelum semua usai. Beri tahu aku sedikit bebanmu meski tak akan kutahu bagaimana rasanya.
Sebab ingin kulihat senyum pilumu meski tak dapat kuberi penawar, jika pun senja akhirnya menjemputmu. Tak bisakah kupinta, di penghujung malam tetap bersamaku setidaknya sampai mampu kuciptakan lengkung bahagia di bibirmu karena diriku.
Uhuk uhuk
BalasHapusDilarang numpang batuk...
HapusPeace
Senja mrnawan krindahannya mengantar menjemput malam
BalasHapusNamun, yang kutahu ia selalu hadirkan gelap🙈
HapusPeluklah aku sebelum semua usai. Hmmmmmm. Aku hanya bisa berhmmmm aja bacanya. :p
BalasHapusHhhee... Ikutan berhmmm... Juga
Hapus